Mencari pekerjaan zaman sekarang memang tidaklah mudah. Aku sudah mendaftarkan diri di kampus yang menyediakan fasilitas penyalur kerja, mengikuti Job Recruitment di kampus, mendatangi Job Fair, menjadi member pada dua macam situs yang mengiklankan lowongan pekerjaan selain mengirimkan lamaran dari lowongan di surat kabar. Bahkan aku nekat untuk melamar ke Ibu Kota Negara yang cukup jauh dari tempat asalku. O’ya aku juga mendapatkan informasi pekerjaan dari temen-temenku.
Berharap dan terus berharap adalah apa yang kurasakan saat ini. Mau gimana lagi, ya nggak? Terkadang semangatku menggebu-gebu kadang biasa saja saat mengirimkan surat lamaran. Aku pengen ngucapin thank’s banget buat temen-temenku yang senantiasa kasih informasi lowongan pekerjaan. Mereka mau ngebagiin info yang bagi aku berharga banget.
Emosiku sempat meningkat tajam saat mendengar komentar salah seorang temenku, ”Kamu santai ya?” setelah mendengar ceritaku bahwa aku belum bekerja sama sekali hingga saat ini. Di dalam hati aku jengkel mendengar ucapannya karena dia nggak tahu sudah seberapa jauh aku mencari dan mencari. Aku masih berusaha. Memang inilah masaku karena dulu waktu mengerjakan tugas akhir aku paling benci ditanya, ”Kapan lulus?” (kenyataan terlambat 1 semester) sedangkan saat ini untuk orang-orang yang mengenalku bakal bertanya seperti ini, ”Kamu sudah kerja?”
Bukan hal yang salah dengan apa yang dipertanyakan temen-temenku itu baik waktu aku mengerjakan tugas akhir maupun saat ini aku ditanya. Semuanya memang ada waktunya. Ambil sisi positifnya aja, mereka berarti concern ama kita. Ya kan?
Apakah aku pernah dipanggil tes ataupun wawancara? Ya. Aku pernah dipanggil tes juga wawancara di berbagai tempat Pasuruan, Semarang, Surakarta, Surabaya. Detailnya menolak karena sudah keterima satu kali sedangkan menolak untuk melakukan tes lebih lanjut satu kali. Alasannya? Aku selalu merhatiin tempat, lingkungan sekitar tempat kerja, sesuai ngga dengan kompensasi yang aku dapatkan.
Pertanyaan terakhir yang ada di benak kalian (merupakan tebakanku sebenarnya), ”Apakah kamu bersyukur atas semua peristiwa yang terjadi?” Aku menjawab dengan mantap, ”100% Ya.” Jawabanku saat ini bukanlah kenekatan ataupun kesembrono-an belaka. Aku tidak mempunyai koneksi. Dengan kata lain, semuanya aku cari dan berusaha dengan bantuan dan dukungan dari keluarga juga temen-temenku. Ya, aku bangga karena aku masih mampu bersemangat dan berusaha untuk mencari pekerjaan. Walaupun tidak bisa dipungkiri aku juga sedikit sakit hati saat mendengar lowongan yang aku daftar ternyata sudah terisi oleh orang yang punya koneksi. Tetapi dibandingkan itu semua, aku lebih bersyukur karena aku jadi mempunyai banyak temen baru. Teman yang bertemu saat sama-sama dipanggil wawancara juga tes.
Inilah yang aku dapatkan bahwa aku belajar untuk bersabar juga bersyukur atas apapun yang terjadi. Sisi positif yang aku pelajari dari semua yang dialami saat mencari pekerjaan, menjadi lebih mengetahui usaha orang tua mencari nafkah (sekarang membantu orang tua yang wiraswasta), belajar nyetir mobil, lebih dekat dengan saudara kandung, dan masih bebas menyalurkan hobby tentunya. Dulu, aku benci banget yang namanya baca koran kalau bukan gosip sekarang justru bertambah bukan hanya gosip tetapi juga dunia politik dan keadaan masyarakat Indonesia selalu aku baca. Aku jadi lebih tahu dan nggak bengong lagi kalau diajak ngomong tentang kedaan bangsa ini terutama yang global.
Bersyukur dan mengambil hikmah dari semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita tidaklah mudah. Semuanya membutuhkan kerendahan hati dan perenungan. Selain itu, aku juga belajar untuk lebih memahami orang lain. Aku mendapatkan point ini karena ucapan temenku yang mengatakan, ”Kamu santai ya?” tadi. Aku berpikir seandainya aku berada pada posisi temenku saat itu. Mungkin itu hanyalah ungkapan ringan yang diucapkan sambil lalu atau memang temenku tipe orang yang workaholic. Aku belajar untuk lebih berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu. Kita seringkali mudah menghakimi dengan apa yang kita ketahui walaupun itu sekilas saja tanpa ada usaha untuk mencari tahu lebih jauh. Jadi, teruslah belajar dan bersyukur di dalam hidup karena Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya agar bertumbuh makin serupa dengan Dia.