Tuesday, March 27, 2007

Happiness

Everyone always finding this for entire of their life. Now, I want to share my experience when I read in comic book that it said about "Happiness".
When you say that you're happy but the reality is you're not happy the fact is you're not happy,
When you say that you're not happy but the reality is you're happy the fact is you're happy,
Happiness is not depend on what you said/think but depend on the point of view in your life
It's your decision to said and think about "Happiness"!
Think about the ones you loved so much & said to them before it's too late about your "true" feeling!

Monday, January 29, 2007

Jobs, jobs, jobs! Where are You..................

Mencari pekerjaan zaman sekarang memang tidaklah mudah. Aku sudah mendaftarkan diri di kampus yang menyediakan fasilitas penyalur kerja, mengikuti Job Recruitment di kampus, mendatangi Job Fair, menjadi member pada dua macam situs yang mengiklankan lowongan pekerjaan selain mengirimkan lamaran dari lowongan di surat kabar. Bahkan aku nekat untuk melamar ke Ibu Kota Negara yang cukup jauh dari tempat asalku. O’ya aku juga mendapatkan informasi pekerjaan dari temen-temenku.

Berharap dan terus berharap adalah apa yang kurasakan saat ini. Mau gimana lagi, ya nggak? Terkadang semangatku menggebu-gebu kadang biasa saja saat mengirimkan surat lamaran. Aku pengen ngucapin thank’s banget buat temen-temenku yang senantiasa kasih informasi lowongan pekerjaan. Mereka mau ngebagiin info yang bagi aku berharga banget.

Emosiku sempat meningkat tajam saat mendengar komentar salah seorang temenku, ”Kamu santai ya?” setelah mendengar ceritaku bahwa aku belum bekerja sama sekali hingga saat ini. Di dalam hati aku jengkel mendengar ucapannya karena dia nggak tahu sudah seberapa jauh aku mencari dan mencari. Aku masih berusaha. Memang inilah masaku karena dulu waktu mengerjakan tugas akhir aku paling benci ditanya, ”Kapan lulus?” (kenyataan terlambat 1 semester) sedangkan saat ini untuk orang-orang yang mengenalku bakal bertanya seperti ini, ”Kamu sudah kerja?”

Bukan hal yang salah dengan apa yang dipertanyakan temen-temenku itu baik waktu aku mengerjakan tugas akhir maupun saat ini aku ditanya. Semuanya memang ada waktunya. Ambil sisi positifnya aja, mereka berarti concern ama kita. Ya kan?
Apakah aku pernah dipanggil tes ataupun wawancara? Ya. Aku pernah dipanggil tes juga wawancara di berbagai tempat Pasuruan, Semarang, Surakarta, Surabaya. Detailnya menolak karena sudah keterima satu kali sedangkan menolak untuk melakukan tes lebih lanjut satu kali. Alasannya? Aku selalu merhatiin tempat, lingkungan sekitar tempat kerja, sesuai ngga dengan kompensasi yang aku dapatkan.

Pertanyaan terakhir yang ada di benak kalian (merupakan tebakanku sebenarnya), ”Apakah kamu bersyukur atas semua peristiwa yang terjadi?” Aku menjawab dengan mantap, ”100% Ya.” Jawabanku saat ini bukanlah kenekatan ataupun kesembrono-an belaka. Aku tidak mempunyai koneksi. Dengan kata lain, semuanya aku cari dan berusaha dengan bantuan dan dukungan dari keluarga juga temen-temenku. Ya, aku bangga karena aku masih mampu bersemangat dan berusaha untuk mencari pekerjaan. Walaupun tidak bisa dipungkiri aku juga sedikit sakit hati saat mendengar lowongan yang aku daftar ternyata sudah terisi oleh orang yang punya koneksi. Tetapi dibandingkan itu semua, aku lebih bersyukur karena aku jadi mempunyai banyak temen baru. Teman yang bertemu saat sama-sama dipanggil wawancara juga tes.

Inilah yang aku dapatkan bahwa aku belajar untuk bersabar juga bersyukur atas apapun yang terjadi. Sisi positif yang aku pelajari dari semua yang dialami saat mencari pekerjaan, menjadi lebih mengetahui usaha orang tua mencari nafkah (sekarang membantu orang tua yang wiraswasta), belajar nyetir mobil, lebih dekat dengan saudara kandung, dan masih bebas menyalurkan hobby tentunya. Dulu, aku benci banget yang namanya baca koran kalau bukan gosip sekarang justru bertambah bukan hanya gosip tetapi juga dunia politik dan keadaan masyarakat Indonesia selalu aku baca. Aku jadi lebih tahu dan nggak bengong lagi kalau diajak ngomong tentang kedaan bangsa ini terutama yang global.

Bersyukur dan mengambil hikmah dari semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita tidaklah mudah. Semuanya membutuhkan kerendahan hati dan perenungan. Selain itu, aku juga belajar untuk lebih memahami orang lain. Aku mendapatkan point ini karena ucapan temenku yang mengatakan, ”Kamu santai ya?” tadi. Aku berpikir seandainya aku berada pada posisi temenku saat itu. Mungkin itu hanyalah ungkapan ringan yang diucapkan sambil lalu atau memang temenku tipe orang yang workaholic. Aku belajar untuk lebih berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu. Kita seringkali mudah menghakimi dengan apa yang kita ketahui walaupun itu sekilas saja tanpa ada usaha untuk mencari tahu lebih jauh. Jadi, teruslah belajar dan bersyukur di dalam hidup karena Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya agar bertumbuh makin serupa dengan Dia.

Friday, December 22, 2006

Belanda vs Italia

Bayangkanlah Anda berencana akan pergi ke Italia, sudah mencari seluk beluknya dengan teliti dan mulai membayangkan pengalaman yang akan terjadi. Anda tertidur di dalam pesawat dan terbangun setelah mendengar suara awak pesawat yang mengatakan,"Selamat datang di Belanda." Sontak terkaget, Anda berteriak, "BELANDA?!Apa maksud Anda dengan Belanda? Saya memesan tiket ke Italia! Seharusnya saya di Italia sekarang.Seumur hidup saya memimpikan pergi ke Italia." Namun, apa mau dikata, pesawat mendarat di Belanda. Anda hanya harus membeli buku panduan baru dan berusaha mempelajari bahasa yang berbeda. Belanda lebih santai dan tidak segermelap Italia. Belanda mempunyai banyak kincir angin,bunga tulip, dan lukisan-lukisan pelukis Rembrandt. Namun, orang-orang yang Anda kenal pergi ke Italia dan membanggakan saat-saat indah di sana. Di sepanjang sisa hidup Anda, Anda akan berkata, "Ya, itulah tempat yang seharusnya aku datangi. Itulah yang sudah kurencanakan." Kepedihan akan hal itu tidak akan pernah sirna karena hilangnya mimpi itu merupakan kehilangan yang menyakitkan. Namun, jika Anda menghabiskan hidup dengan meratapi kenyataan bahwa Anda tidak jadi pergi ke Italia maka Anda tidak bisa dengan leluasa menikmati berbagai hal istimewa dan indah yang ada di Belanda.

Pam Vredevelt adalah seorang istri pendeta yang mengutip tulisan Emily Perl Kinsley di atas dalam sebuah buku karyanya. Anak ketiga Pam, tidak lahir secara normal seperti kedua kakaknya. Kartu dan surat dari keluarga dan teman dekat membanjiri rumah Pam ketika Nathan lahir. Mereka ingin menolong Pam dan ikut ambil bagian dalam kesedihan keluarganya. Juga ada sepucuk curat yang juga dikirimkan beserta kliping surat kabar yang menantang Pam untuk membuka hati terhadap arah baru dalam hidupnya.Nathan menderita Sindrom Down.
Nathan mengundang Pam untuk acara minum teh di hari Ibu. Seketika Pam teringat akan Jessie dan Ben kedua anaknya yang lain. Jessie kecil memakai rok polkadot merah muda dengan kucir ekor kuda pirang menyanyikan lagu khusus untuk para ibu. Jessie dengan penuh percaya diri berdiri di barisan depan dan menyanyikan lagu itu dengan sekuat tenaga.Di dalam hatinya, Pam berpikir, ia begitu riang dan hidup. Tak satu hal pun dapat membuatnya takut. Sedangkan Ben memerankan sebagai Yusuf dalam acara Natal TK. Dia diberi tugas menuntun Maria yang berada di dalam kardus bolong berbentuk keledai yang diikatkan di pinggangnya. Guru mereka sudah memberitahukan agar meninggalkan keledai di bagian kiri panggung sebelum pergi ke kandang domba di sebelah kanan panggung.Ketika Ben alias Yusuf menarik tali dengan keras untuk memarkirkan keledai sesuai instruksi, kakinya tersandung cabang pohon. Maria spontan bersandar pada keledainya, menolak untuk berpindah tempat. Namun Yusuf adalah seorang yang mengemban misi dan tidak ingin diganggu jadi dia menangkap dan membuat gerakan menyentak yang sangat cepat dengan talinya, menarik Maria yang terkejut, satu meter ke depan. Maria pun dengan sangat marah menjatuhkan keledainya, berkacak pinggang, memandang Yusuf dengan sebal lalu lari meninggalkan panggung. Yusuf yang tercengang melihat perasaan Maria yang mudah berubah, melangkah tergesa-gesa ke kandang dan memasang tampang cemberut. Itulah cerita pertama kali Yusuf dan Maria bertengkar. Pam tertawa mengingat pertunjukan itu sekaligus bangga dengan penampilan kedua anaknya itu, bangga menjadi orang tua mereka.
Waktu terus berputar dan Pam tahu kali ini akan berbeda. Pam tahu bahwa Nathan tidak akan bisa mengucapkan lirik lagu dengan sempurna dan mungkin akan melewatkan beberapa gerakan tangan di sana-sini. Pam tahu bahwa dua puluh ibu lain bisa menggoyahkan kepercayaan diri Nathan. Pam tidak tahu pasti bagaimana pagi itu berlalu namun dia memutuskan untuk membuka hati terhadap segala sesuatu yang akan terjadi dan menerimanya dengan penuh rasa syukur. Penerimaan sangat besar kuasanya. Penerimaan memberikan ketenangan pada hati yang terkoyak karena konflik. Penerimaan datang jika kita membuat pilihan sederhana untuk mengambil napas dalam-dalam dan berkata, "Inilah kami apa adanya, yang harus berada di sini pada saat ini." Dengan kata lain, kita berhenti menyia-yiakan waktu, energi, dan emosi yang berharga untuk berkhayal seandainya situasi kita berbeda, menjadi orang yang berbeda dan mengharapkan situasi menjadi lebih baik. Penerimaan berarti percaya bahwa "masa hidupku ada dalam tangan-Mu (Mazmur 31:16). Ketika anak-anak menyanyi pada waktu istirahat minum teh, Nathan berdiri di samping Pam dan berusaha sebaik mungkin mengucapkan beberapa suku kata. Gerakan tangannya tidak begitu baik tetapi konsisten. Jari-jarinya yang gemuk mengenggam baju Pam dan dia tersenyum sepanjang waktu. Nathan sangat menikmati saat-saat tersebut! Sepanjang satu lagu yang mereka bawakan, Pam melihat seorang ibu meneteskan air mata melihat Nathan. Matanya mencucurkan air mata kesedihan. Pam tidak tahu apa yang ibu itu pikirkan tetapi secara spontan, rasanya dia mengetahuinya. Pam sadar sedang berada di "tempat yang berbeda" dan itu bukan pilihannya. Namun dia sadar, Allah pun berada di tempat yang berbeda ini dan Dia telah membawanya ke sini.
Pam sangat bersyukur ketika meninggalkan sekolah hari itu. Pam bersyukur karena Allah menolongnya melalui tahun-tahun kesedihan untuk lebih mampu menerima. Hal itu tidak berarti Pam tidak lagi merasa sedih atau tidak pernah berandai-andai "bagaimana jika" juga tidak berarti dia tidak pernah melamunkan "Italia". Namun, semuanya itu sudah jauh berkurang, jauh berkurang daripada sebelumnya. Pam bersyukur karena Allah mengajarkan keluarganya untuk menerima keberadaan Nathan sebagai keunikan yang harus dihargai dan dipahami. Pam bersyukur karena kegembiraan atas apa yang dapat dilakukan Nathan jauh melampaui kesedihan atas apa yang tak dapat dia lakukan. Pam bersyukur karena Allah telah memberikan "anak laki-laki cacat di dalam kelas" (julukan beberapa orang kepada Nathan) kepadanya dan bahwa dia bangga kepada Pam sebagai ibunya.Ternyata, ada begitu banyak cinta di Belanda.

(Disadur dari Malaikat di Belakang Kursi Goyang karya Pam Vredevelt)